IPA TERAPAN DALAM BIDANG BUDIDAYA PERIKANAN

Apri Arisandi

Abstract


Secara umum IPA dasar, IPA terapan dan teknologi mempunyai kajian pokok yang sama yaitu tentang alam. Perbedaan dari ketiga hal tersebut terdapat pada aspek yang dikaji yaitu memahami dan mengendalikan cara alam bekerja, serta memanfaatkannya untuk membuat alat. Beberapa permasalahan dalam bidang budidaya perikanan telah dapat diselesaikan dengan IPA terapan, antara lain maskulinisasi, feminisasi, jantan super, dan poliploidisasi. Beberapa jenis ikan mempunyai perbedaan morfologi dan laju pertumbuhan yang signifikan antara yang jantan dan betina. Bagi pembudidaya ikan perbedaan jenis kelamin sangat mempengaruhi keuntungan yang akan diperoleh, sehingga perlu dilakukan maskulinisasi atau feminisasi. Peluang keturunan berkelamin jantan atau betina adalah 50% : 50%, tetapi produksi ikan jantan secara masal dapat dilakukan dengan mengawinkan individu betina dengan jantan super. Jantan super adalah individu jantan dengan kromosom homo gamet (YY), sehingga menghasilkan 100% ikan jantan (XY). Hewan termasuk mamalia dan manusia secara alami memiliki sel diploid, yang merupakan hasil perpaduan dari masing-masing 1 set kromosom induk jantan dan betina. Individu poliploid memiliki sifat lebih baik dari sisi kualitas dan kuantitas. Bagi pelaku usaha budidaya perikanan, membudidayakan ikan poliploid (triploid dan tetraploid) dapat memberikan keuntungan yang maksimal. Maskulinisasi, feminisasi, jantan super dan poliploidisasi merupakan salah satu bukti berhasilnya konsep IPA terapan dalam bidang budidaya perikanan.

References


Carman O, Oshiro T, dan Takashima F, 1991. Estimastion of Effective Condition for Induction of Triploidy in Goldfish,Carrassius auratus Linnaeus. Journal of The Tokyo University of Fisheries, 78 (2): 127–135

Feibleman, J.K., 1961. Pure Science, Applied Science, Technology, Engineering. Technology and Culture, The Johns Hopkins University Press on behalf of the Society for the History of Technology. Vol. 2, No. 4, pp. 305-317

Johnstone R, 1993. Optimisation of Ploidy Manipulation Procedures. Dalam: Penman, D., Roongratri, N. Dan McAndrew, B. (Eds.)Genetics in Aquaculture and Fisheries Management. AADCP Workshop Proceedings. University of Stirling, Scotland. 37-40.

Komen J, 1990. Clones of Common Carp, Cyprinus carpio. New Perspectives in Fish Reseach. Thesis. Agricultural University. Wageningen. 1–44.

Malecha, S. R., et al. 1992. Sex – Ration and Sex – Determination in Progeny From Crosses Of Surgically Sex – Reversed Freshwater Prawn, Macrobrachium rosenbergii. Aquaculture 105 : 201 – 218.

Nagy, A., Bersenyi, M., Csanyi, V. 1981. Sex Reversal in Carp (Cyprinus carpio) by Oral Administration Of Methyltestosterone. Canadian Journal Of Fisheries And Aquatic Science 38: 725 – 728.

Piferrer, F. 2001. Endocrine Sex Control Strategis For Feminization Of Teleosts Fish. Aquaculture. 197 : 229 – 281.

Purdon, Colin E. 1993. Genetic and Fish Breeding. Chapman and Hall. New York. USA. 277 pp.

Rustidja, 1991. Aplikasi Manipulasi Kromosom pada Program Pembenihan Ikan

Makalah dalam Konggres Ilmu Pengetahuan Nasional V. Jakarta. 23

Sumantadinata, K. dan Carman, O. 2005. Teknologi Ginogenesis dan Seks Reversal dalam Pemuliaan Ikan. Buletin Ilmiah Gukuryoku, Volume I, 2005. Hal.11 – 18.

Yamazaki, F. 1983. Sex Control and Manipulation in Fish. Aquaculture 33: 329 – 354


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.