Analisis Hermeneutika Lirik Kejhung Madura dalam Perlombaan Sapeh Sonok sebagai Nilai Sastra Lokal Madura

Arif Rahman Maulana, Maulid Taembo, Syehfani Alif Akbar

Abstract


Tradisi merupakan sesuatu yang telah dilakukan sejak lama menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Di Madura banyak sekali jenis tradisi yang terus dilestarikan oleh masyarakat. Banyak sekali macam tradisi yang ada di masyarakat Madura, salah satunya “Sapeh Sonok”. Sapeh sonok merupakan salah satu tradisi madura yang memperlombakan sapi-sapi berdasarkan kriteria tertentu, berbeda dengan kerapan sapi yang lebih melombakan sapi berdasarkan kecepatannya, sapeh sonok lebih memppertandingkan keindahan dari para sapi, dalam pagelaran sapi sonok, para sapi dihias dengan pernak-pernik kostum yang sangat indah. Tradisi sapeh sonok hampir digelar oleh setiap kabupaten yang ada di Madura. Tradisi sapeh sonok memperlombakan keindahan para sapi mulai dari gerak dan busana dari sapi tersebut, untuk menimbukan gerakan indah dari para sapi para pengasuh sapi akan membawa sinden serta alat musik tradisional khas madura sebagai pengiring dalam perlombaan.

Nilai-nilai sastra lokal yang ada di dalam suatu masyarakat dapat membentuk karakter yang berkualitas. Hal ini berarti eksistensi sebuah sastra lokal dalam masyarakat tertentu tidak hanya dimaksudkan untuk membantu mewujudkan harmoni hidup bersama pada saat terbentuknya saja, tetapi dapat dipakai sebagai perangkat kehidupan sampai ke masa yang akan datang. Nilai-nilai itu akan terinternalisasi, baik ke dalam pribadi-pribadi maupun sistem sosial atau kelembagaan sosial masyarakat. Oleh karena itu, nilai-nilai sastra lokal perlu diungkap dan digali sedalam-dalamnya. Pengungkapan dan penggalian nilai sastra lokal dapat memberi gambaran alasan dan tujuan dari sastra tersebut. Nilai-nilai tersebut dapat dikembangkan dan dilestarikan, serta diajarkan untuk generasi muda. Proses internalisasi harus dijalankan sehingga masyarakat mempunyai pola pikir yang berkarakter. Dengan demikian, internalisasi nilai sastra lokal dapat diterapkan di dunia pemerintahan dengan lebih mudah. Kejhung (kidung dalam bahasa Jawa) merupakan tradisi lisan Madura. Kejhung menjadi salah satu ikon masyrakat madura dari berbagai sudut pandang kehidupan sosial madura yang diungkapkan dalam bahasa puitis, kejhung Madura sering digunakan dalam beberapa acara tradisi Madura. Menurut Ricoer hermeneutika bertugas untuk mencari sebuah makna kedalam teks itu sendiri, dan dinamika internal yang mengatur struktur dari sebuah karya selain itu mencari kekuatan yang dimiliki karya sstra untuk memproyeksikan dirinya keluar dan melahirkan sesuatu dunia yang benar-benar dirujuk oleh teks tersebuut. Dinamika internal dan proyeksi keluar itulah yang disebut sebagai sebagai kerja dari teks. Maka tugas hermeneutika melakukan rekonstruksi dari dua sisi tersebut.

References


Badrih, M. (2017). Ekspresi Simbol Monoteis Sastra Lisan Kèjhung Madura (telaah Semiotika Hjemslev. SASTRANESIA, 74-83.

Isnaini, H. (2021). Konsep Memayu Hayuning Bawana: Analisis Hermeneutika pada Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono. Literasi, 8- 17.

Maulidiah, E. H., & dkk. (2024). Nilai Pendidikan Budaya Masyarakat Madura dalam Kejhung. Jurnal Onoma, 2555-2564.

Pambudi, B. (2018). Semiotika Karapan Sapi dan Transformasi Simbolik Masyarakat Madura. Jurnal Komunikaso Islam, 114-127.

Prabawa, A. K., & Mukti, M. (2022). Interpretasi Makna Gramatis dan Psikologis Tembang Macapat Dengan Analisis Hermeneutika Schleiermacher. Indonesian Journal of Performing Arts Education, 1-15.

Rahmad, & dkk. (2022). Religius Values In Madura Proverb Nilai-Nilai Religiius dalam Peribahasa Madura. Geram, 122-132.

Saidi, A. I. (2008). Hermeneutika Sebuah cara Memahami Teks. Sosioteknologi, 376-382.

Sulthoni, M. I., & Alrianingrum, S. (2020). Kesenian Saronen Kelompok ‘Bunga Aroma’ dalam Kegiatan Kemasyarakatan di Desa Tanjung Kecamatan Saronggi Kabupaten Sumenep Tahun 1975 – 2015. Avatara, 1-10.

Sungkar, S. (2023). Hermeneutika Paul Riceour. JUrnal Dekonstruksi, 4-13.

Sutriyadi. (2019). Representasi Nilai Moral Dalam Syair Lagu Daerah Madura. NOSI, 30-40.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.